KEANEKARAGAMAN MANUSIA LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI UMUM II

 

KEANEKARAGAMAN MANUSIA LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI UMUM II 

BY CATATAN KULIAH IPA




LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI UMUM II KEANEKARAGAMAN MANUSIA

Disusun Oleh :

Nama                     : Dewi Sriyani

NPM                       : A1M019035

Hari, Tanggal        : Rabu, 26 Februari 2020


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS BENGKULU

2020



BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Setiap manusia memiliki keunikan masing-masing. Tidak ada individu yang tepat sama, sekalipun pasangan kembar identik. Keturunan dari hasil perkawinan individu memiliki susunan perangkat gen yang berasal dari kedua induk/orang tuanya.  Kombinasi susunan perangkat gen dari dua induk tersebut akan menyebabkan keanekaragaman individu dalam satu spesies berupa varietas-varietas (varitas) yang terjadi secara alami atau secara buatan.

Keanekaragaman merupakan dasar ciri–ciri makhluk hidup. Adanya keanekaragaman genetik merupakan hasil seleksi alam dari suatu spesies terhadap lingkungannya. Keanekaragaman tidak hanya terjadi pada tumbuhan dan hewan saja tetapi juga manusia. Namun pada manusia, keanekaragaman yang terjadi hanya pada tingkat gen dan berkaitan dengan pewarisan sifat. Manusia memperlihatkan variasi pada beberapa ciri-ciri yang dapat dilihat dengan mudah melalui fenotip atau sifat yang tampak.

         Fenotip dapat dikatakan sebagai karakteristik atau ciri-ciri yang dapat diukur atau sifat yang nyata yang dmiliki oleh organisme. Ciri itu tampak oleh mata, seperti warna kulit atau tekstur rambut. Fenotip dapat juga diuji untuk identifikasinya, seperti pada penentuan angka respiratoris atau uji serologi tipe darah. Fenotip merupakan hasil produk-produk gen yang diekspresikan di dalam lingkungan tertentu. Namun, gen memiliki batasan-batasan di dalamnya sehingga lingkungan dapat memodifikasi fenotip. Untuk memahami keanekaragaman manusia maka dilakukan praktikum  keanekaragaman manusia dengan mengamati macam-macam gejala fenotipenya.

1.2 Rumusan masalah

Bagaimana mengamati bermacam-macam gejala fenotipe pada manusia dari menemukan kesamaan dan perbedaan yang ada

1.3 Tujuan

Mampu mengamati bermacam-macam gejala fenotipe pada manusia dari menemukan kesamaan dan perbedaan yang ada.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Setiap manusia memiliki keunikan masing-masing. Tidak ada individu yang tepat sama, sekalipun pasangan kembar identik. Keturunan dari hasil perkawinan individu memiliki susunan perangkat gen yang berasal dari kedua induk/orang tuanya.  Kombinasi susunan perangkat gen dari dua induk tersebut akan menyebabkan keanekaragaman individu dalam satu spesies berupa varietas-varietas (varitas) yang terjadi secara alami atau secara buatan.

Keanekaragaman gen adalah segala perbedaan yang ditemui pada makhluk hidup dalam satu spesies. Pengetahuan tentang keragaman genetik sangat penting karena akan memeberikan suatu informasi dasar dalam pengembangan tanaman selanjutnya. Dalam keanekaragaman yang tinggi menyimpan gen berpotensi yang tinggi pula. Perkembangan ilmu pengetahuan mempermudah mendeteksi keragaman genetik suatu individu berbasis molekuler. Secara umum keanekaragaman genetik dari suatu populasi dapat terjadi karena adanya mutasi, rekombinasi, atau migrasi gen dari satu tempat ke tempat lain. (Carlen, dkk. 2017:1)

Keanekaragaman yang terjadi secara alami adalah akibat adaptasi atau penyesuaian diri setiap individu dengan lingkungan. Faktor lingkungan juga turut mempengaruhi sifat yang tampak (fenotip) suatu individu di samping ditentukan oleh faktor genetiknya (genotip). Faktor lingkungan dapat berupa nutrisi yang mempengaruhi tinggi, latihan fisik mengubah bentuk badan, berjemur dan menggelapkan kulit. Bahkan kembar identik, yang secara genetik sama pun, menampakan perbedaan fenotipe sebagai akibat dari pengalaman mereka sendiri-sendiri. Meskipun penelitian dan penyelidikan tentang peristiwa genetik (hereditas) pada manusia lebih sulit dilakukan dibandingkan dengan penyelidikan pada hewan ataupun tumbuhan. Akan tetapi, kita dapat menyelidiki keanekaragaman manusia dari keanekaragaman suatu populasi, misalnya : kita bisa mengamati variasi sifat pada manusia khususnya sifat-sifat fisik yang tampak maupun kita bisa membandingkan persamaan dan perbedaan sifat yang terbanyak dalam populasi kelas. Pada manusia, setiap sel somatic memiliki 46 kromosom ( Stansfield, 1983 )

Fenotip dapat dikatakan sebagai karakteristik atau ciri-ciri yang dapat diukur atau sifat yang nyata yang dmiliki oleh organisme. Ciri itu tampak oleh mata, seperti warna kulit atau tekstur rambut. Fenotip dapat juga diuji untuk identifikasinya, seperti pada penentuan angka respiratoris atau uji serologi tipe darah. Fenotip merupakan hasil produk-produk gen yang diekspresikan di dalam lingkungan tertentu. Namun, gen memiliki batasan-batasan di dalamnya sehingga lingkungan dapat memodifikasi fenotip. ( Susanto, 2011 )

Genotip ialah seluruh gen yang dimiliki suatu individu. Genotip yang terekpresikan menampakan fenotip pada suatu individu. Genotip yang melibatkan alel-alel pada suatu lokus tunggal dapat menghasilkan genotip yang homozigot.  Keturunan  homozigot dapat dihasilkan dari galur murni. Perpaduan heterozigot dihasilkan dari alel yang berbeda. Gen adalah perintah-perintah yang membuat manusia, hewan, tumbuhan dan makhluk hidup lainnya bekerja. Gen ditemukan dalam sel-sel yang menyusun semua makhluk hidup. Gen terdiri atas suatu zat kimia yang disebut DNA. Sesuatu yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, dalam gen disebut sifat genetika. (Campbell, 1999).

Variasi genetik manusia merupakan keragaman gen yang menunjukkan jumlah total dari karakteristik gen yang dapat diamati pada manusia. Setiap manusia memiliki gen yang berbeda-beda. Tidak akan ada dua orang manusia yang secara genetik sama meskipun mereka kembar identik/ kembar monozigot. Adanya perbedaan gen tersebut terjadi baik pada tingkat spesies maupun tingkat populasi. Perbedaan gen pada tingkat spesies dapat terlihat dari adanya variasi fenotip pada setiap individu. Dengan bantuan cakram genetika, kita dapat melihat adanya keragaman gen manusia melalui tampilan fenotipnya. Ujung telinga menggantung dan menempel adalah satu contoh dari sifat genetika. Gen untuk ujung telinga menggantung adalah dominan, sedangkan untuk ujung telinga menempel adalah resesif. Ibu jari yang melengkung termasuk sifat dominan, sedangkan ibu jari yang lurus bersifat resesif. Rambut lurus merupakan sifat resesif dengan genotip tt. Sedangkan rambut keriting adalah sifat dominan dengan genotip TT. Rambut ikal mempunyai genotip Tt. Adanya rambut pada ruas tengah jari-jari tangan merupakan sifat dominan, sedangkan tidak adanya rambut pada ruas tengah jari jari tangan merupakan sifat resesif. (Suryo, 1996)


BAB III
METODE PENELITIIAN

3.1 Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari   14 April 2020,  pukul 15.00 WIB. Bertempat di Desa Bajak I, Kabupaten Bengkulu Tengah, Provinsi Bengkulu.

 

3.2 Alat dan Bahan

1.    Meteran

2.    Probadus

3.    Kamera

4.    Alat tulis

 

3.3 Langkah kerja

1.    Lakukan pengamatan / kumpulkan data kamu tentang beberapa ciri yang dijadikan sasaran pengamatan. Bila tidak dapat mengamati dan melakukan pengukuran sendiri, lakukanlah dengan teman sekelompokmu. 

  1. pengamatan di lakukan pula untuk beberapa ciri yang mungkin mudah / dapat kamu temukan pada saudara-saudara sekandung,  ayah dan ibumu.  
  2. Data hasil dicatat  pengamatanmu pada tabel :  a. Data antar teman dalam kelompok b. Data antar saudara sekandung tiap atau di antara anggota kelompok
  3. Identifikasi kesamaan dan perbedaan yang terjadi
  4. Diskusikan mengapa gejala kesamaan dan perbedaan tersebug terjadi
  5. Nyatakan kesimpulan hasil pengamatnya
  6. Susun laporan dan mengkomunikasikan hasilnya
  7. Sasaran Pengamatannya:

1.    Ciri rambut (bentuk = lurus, ikal, keriting;  kebotakan = botak dan tidak botak),

2.     2. Ciri kulit (warna = putih, coklat, hitam)

3.     Ciri mata (bentuk mata = bulat, lonjong, sitib)

4.    Ciri hidung (bentuk hidung = mancung,agak mancung, pesek; rasio tinggi/ lebar hidung).

5.    bentuk tubuh (gemuk – agak gemuk, kurus , langsing), 

6.    golongan darah ( A, B, AB, O),

7.    bentuk wajah (bulat, oval/ lonjong, kotak)

8.     tinggi badan dan ciri khas yang lain.

9.    Daun telinga (melekat, menggantung)

 

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil percobaan

Gejala / Ciri diamati

Probandus / Orang yang diamati

1

(Dewi)

2

Fahmi

( Abang)

3

Iksan

(Sepupu)

4

Viko

(Sepupu)

5

Azizah

(Keponakan)

6

Ega

(Teman)

1.    Daun Telinga

 

 

 

 

 

 

 

-         Menggantung   

ü   

ü   

ü   

ü   

ü       

 

-          Melekat

 

 

 

 

 

ü   

2.    Bentuk Rambut

 

 

 

 

 

 

-          Lurus

ü   

ü   

ü   

 

ü   

 

-          Ikal

 

 

 

ü   

 

ü   

-          Keriting

 

 

 

 

 

 

3.    Kebotakan

 

 

 

 

 

 

-          Botak

 

 

 

 

 

 

-          Tidak Botak

ü   

ü   

ü   

ü   

ü   

ü   

4.    Warna Kulit

 

 

 

 

 

 

-          Putih

 

 

ü   

 

 

ü   

-          Coklat

ü   

ü   

 

ü   

ü   

 

-          Hitam

 

 

 

 

 

 

5.    Bentuk wajah

oval

oval

Bulat

oval

Oval

Bulat

6.    Bentuk Mata

lonjong

lonjong

sipit

bulat

sipit

sipit

7.    Golongan Darah

A

A

A

B

O

A

8.    Bentuk Hidung

Agak mancung

mancung

Mancung

Mancung

pesek

Pesek

9.    Indek Hidung

lebar

lebar

lebar

lebar

lebar

lebar

10. Bentuk Tubuh

Langsing

Agak gemuk

langsing

kurus

Agak gemuk

gemuk

 

4.2 Pembahasan

Pada praktikum  kali ini kami melakukan pengamatan pada keanekaragaman  manusia berdasarkan gejala fenotipe. Menurut (Susanto, 2011 Fenotip) Variasi genetik manusia merupakan keragaman gen yang menunjukkan jumlah total dari karakteristik gen yang dapat diamati pada manusia. Setiap manusia memiliki gen yang berbeda-beda. Tidak akan ada dua orang manusia yang secara genetik sama meskipun mereka kembar identik/ kembar monozigot. Adanya perbedaan gen tersebut terjadi baik pada tingkat spesies maupun tingkat populasi. Perbedaan gen pada tingkat spesies dapat terlihat dari adanya variasi fenotip pada setiap individu. Dengan bantuan cakram genetika, kita dapat melihat adanya keragaman gen manusia melalui tampilan fenotipnya. Fenotipe dapat dikatakan sebagai karakteristik atau ciri-ciri yang dapat diukur atau sifat yang nyata yang dmiliki oleh organisme. Ciri itu tampak oleh mata, seperti warna kulit atau tekstur rambut. Fenotip dapat juga diuji untuk identifikasinya, seperti pada penentuan angka respiratoris atau uji serologi tipe darah. Fenotip merupakan hasil produk-produk gen yang diekspresikan di dalam lingkungan tertentu. Namun, gen memiliki batasan-batasan di dalamnya sehingga lingkungan dapat memodifikasi fenotip. Pada pengamatan ini Saya mengamati kenanekaragaman pada 6 orang termasuk saya sendiri, 6 orang itu terdiri dari saudara kandung, keponakan, dua orang sepupu, dan teman. Variasi fenotipe yang diamati adalah daun telinga, bentuk rambut, warna kulit, kebotakan, bentuk wajah, bentuk mata, golongan darah, bentuk hidung, indeks hidung, dan bentuk tubuh. Dimana terdapat perbedaan dan kesamaan variasi fenotipe pada 6 orang yang diamati.

Pada pengamatan ke-1 yaitu bentuk daun telinga, dewi, fahmi (kakak), iksan (sepupu), vico (sepupu), azizah (keponakan) memiliki bentuk daun telinga menggantung sementara ega (teman) memiliki daun telinga melekat. Menurut (Suryo, 1996) Ujung telinga menggantung dan menempel adalah satu contoh dari sifat genetika. Gen untuk ujung telinga menggantung adalah dominan, sedangkan untuk ujung telinga menempel adalah resesif. Pada pengamatan ke-2 bentuk rambut dimana dewi, fahmi (kakak), iksan (sepupu), dan azizah (keponakan) memiliki bentuk rambut yang lurus, sementara vico (sepupu) dan ega (teman) memiliki bentuk rambut ikal. Rambut lurus merupakan sifat resesif dengan genotip tt. Sedangkan rambut keriting adalah sifat dominan dengan genotip TT. Rambut ikal mempunyai genotip Tt. (Suryo, 1996)pada pengamatan ke-3  terlihat kesamaan dari 6 orang yang diamati dimana semuanya tidak botak. Pada pengamatan ke-4 warna kulit,  Dewi, fahmi (kakak) , vico (sepupu) dan azizah (keponakan) memiliki kesamaan warna kulit yaitu warna coklat, sementara iksan (sepupu) dan ega (taman) memiliki warna kulit sama putih. Manusia mempunyai warna kulit hitam, coklat, dan putih. Semakin hitam warna kulitnya maka seseorang akan membawa sifat dominan. Manusia juga ada yang mempunyai warna kulit transparan atau biasa disebut albino. Albino merupakan kelainan genetik karena seseorang tidak mempunyai pigmen dalam tubuhnya. Kelainan ini dapat diturunkan lewat perkawinan karena membawa sifat resesif ( Ekawati, dkk. 2016). Pada pengamatan ke-5 dewi, fahmi(kakak), Vico (sepupu), dan azizah(keponakan) memiliki kesamaan bentuk wajah yang oval, semetara iksan (sepupu) dan ega (teman)memiliki bentuk wajah yang bulat. Pada pengamatan ke-6 , dewi memiliki bentuk mata yang sama dengan fahmi (kakak) yaitu lonjong, sedangkan iksan (ikasan), ega (teman), dan azizah (keponakan) memiliki kesamaan bentuk mata sipit, dan hanya vico yang memiliki bentuk mata bulat. Pada pengamata ke-7  dewi, fami (kakak), iksan (sepupu) dan ega (teman) mimiliki kesamaan golongan darah A, sedangkan  vico memiliki golongan darah AB, dan Aziza h (keponakan) memiliki golongan darah O. Penggolongan darah pada manusia ada empat yaitu A, B, AB, dan O. Pembagian golongan darah ini didasarkan pada ada atau tidaknya sistem ABO yaitu ada-tidaknya aglutinogen dan aglutinin dalam darah ( Tenriawaru, dkk. 2016). Pada pengamatan ke-8  fahmi (abang), Vico (sepupu), dan Iksan (sepupu) memiliki sifat huding yang sama yaitu mancung, sedangkan dewi memiliki hidunng yang agak mancunf, dan Azizah ( keponakan) dan Ega (teman) memiliki kesamaan bentuk hidung pesek. Manusia secara umum memiliki hidung mancung atau pesek. Perbedaan ini menandakan adanya perbedaan ciri pada manusia. Hidung mancung merupakan pembawa sifat dominan dan hidung pesek adalah pembawa sifat resesif. Pengamatan ke-9 enam orang yang diamati meiliki kesamaan indeks hidung yang lebar.   Dan pada pengamatan terakir yaitu ke-10 dewi dan Iksan (sepupu ) bentuk tubuh langsing, Fahmi (kakak) dan azizah (keponakan) bentuk tubuh agak gemuk, Ega (teman) bentuk tubuh gemuk, dan Vico (sepupu) bentuk tubuh kurus.

Dari hasil pengamatan gejala fenotipe terdapat kesamaan dan perbedaan pada masing-masing orang yang diamati, pada data hasil dapat diketahui bahwa Dewi dan Fahmi (Kakak kandung) memiliki banya kesamaan dan hanya terdapat perbedaan pada bentuk hidung dan bentuk tubuh.  Hal ini karena Dewi dan Fahmi (kakak) merupakan saudara kandung, dimana kesamaan ini disebabkan oleh faktor gen, sifat dari ayah dan ibu diturunkan kepada anak-anaknya. atau pewarisan sifat yang terjadi melelui gen-gen pada kromosom sel-sel kelamin, kromosom merupakan benang-benang halus yang berfungsi sebagai faktor pembawa sifat keturunan. Juga terdapat kemiripan antara dewi (saya) dengan Iksan (sepupu), Vico (sepupu), dan Azizah, ini karena merupakan hubungan kekerabatan. Sedangkan saya dan teman saya (ega) terdapat banyak perbedaan ini karena faktor Genotipe perbedaan gen dan alel. Perbedaan-perbedaan ini juga disebabkan gen dominan dan resesif. Menurut (  Susanto, Agus H. 2011  ) Dominan adalah sifat yang muncul pada keturunannya, yang artinya dalam suatu pekawinan sifat ini dapat mengalahkan sifat pasanganya. Gen Dominan adalah gen yang dapat mengalahkan atau menutupi gen lain yang merupakan pasangan alelnya. Resesif adalah sifat yang tidak muncul pada keturunannya, yaitu dalam suatu perkawinan sifat ini tidak dapat dikalahkan (ditutupi) oleh sifat pasangannya. Gen Resesif adalah gen yang dikalahkan atau ditutupi oleh gen lain yang merupakan pasangan alelnya.

Keanekaragaman manusia terjadi secara alami akibat adaptasi atau penyesuaian diri di setiap lingkungan. Faktor yang menyebabkan keberagaman manusia adalah Faktor Lingkungan seperti  perbedaan kondisi alam, faktor ras, faktor agama, pengaruh kebudayaan asing ,dan Adaptasi. Dan Faktor Genotipe (genetik) seperti perbedaan gen dan alel, warisan sifat dari ibu, warisan sifat dari ayah, Mutasi DNA. dan sebagainya.

Ciri yang diperoleh dari pengamatan tidak menunjukkan sifat yang satu lebih unggul dari pada sifat yang lain. Akan tetapi, dengan adanya perbedaan fisik bisa membantu kita membedakan orang yang satu dengan yang lainnya . Masing-masing dari kita, individu unik, dikenal sebagai manusia yang senantiasa  berbeda dari manusia lain. Perbedaan yang ada diantara individu yang bergenotip sama kemungkinan dapat memiliki fenotip yang berbeda. Hal ini terbukti dengan adanya praktikan yang memiliki persamaan sifat fisik tertentu dengan yang praktikan yang lainnya, dalam hal sifat fisik yang lainnya ternyata terdapat juga perbedaan.

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesmpulan

Dari pengamatan yang telah dilakukan, macam-macam gejala Fenotipe yang dapat diamati pada manusia seperti bentuk daun telinga, bentuk rambut, kebotakan, warna kulit, bentuk wajah, bentuk mata, golongan darah, bentuk gidung, indeks hidung, dan bentuk tubuh pada manusia. Dimana pada masing-masing orang yang diamati terdapat perbedaan dan persamaan, yang disebabkan oleh faktor genetik dan faktor lingkungan.

 

5.2 saran

            Saat melalukan pengamatan disarankan agar praktikum benar-benar teliti dalam mengamati gejala fenotip pada orang yang diamati. Sehingga setelah melakukan pengamtan praktikan dapat menjelaskan dan memahami gejala-gejala fenotipe pada manusia dan mengetahi faktor penyebabnya. 


DAFTAR PUSTAKA     

Campbell, Neil. 1999. Biologi Jilid 1. Jakarta : Erlangga

Ekawati, dkk. 2016. Biologi Melanosit. Jurnal Ilmiah. Vo. 7 No. 5. Hal 34

Stansfield, William D. 1983. Genetika, Edisi Ketiga. Jakarta : Penerbit Erlangga

Susanto, Agus H. 2011. Genetika. Yogyakarta : Graha Ilmu.

     Suryo. 1996. Genetika. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.

     Tenriawaru, dkk. 2016. Analisi Korelasi Antara Golongan Darah Tipe ABO dengan Modalitas Dan gaya Belajar Mahasiswa. Jurnal Biologo. Vo.9 No. 5 .Hal:10


Komentar