BIOTEKNOLOGI LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI UMUM II by Catatan Kuliah IPA
BIOTEKNOLOGI LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI UMUM II by Catatan Kuliah IPA
LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI
UMUM II
BIOTEKNOLOGI
Nama : Dewi Sriyani
NPM
: A1M019035
Hari,
Tanggal : Rabu, 22 April 2020
Dosen
Pengampu : Deni Parlindungan, M.Pd
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2020
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Bioteknologi adalah pemanfaatan mikroorganisme untuk menghasilkan
suatu produk yang dapat digunakan oleh manusia.Bioteknologi dibagi menjadi dua,
yaitu, bioteknologi konvensional (tradisional) dan bioteknologi
modern.Bioteknologi konvensional biasanya menggunakan mikroorganisme berupa
bakteri, jamur, dll. Sedangkan bioteknologi modern biasanya menggunakan
teknologi-teknologi yang dapat membantu kita dalam proses pengkloningan, kultur
jaringan.
Pengolahan
makanan dengan cara fermentasi merupakan jenis pengolahan makanan yang cukup
tua. Secara tradisional banyak dilakukan di tingkat rumah tangga. Indonesia
sangat kaya akan produk-produk pangan hasil proses fermentasi. Salah satu
contohnya Tape singkong adalah tape yang dibuat dari singkong yang
difermentasi. Makanan ini populer di Jawa dan dikenal di seluruh tempat, mulai
dari Jawa Barat hingga Jawa Timur. Di Jawa Barat, tapai singkong dikenal
sebagai peuyeum (bahasa Sunda). Pembuatan tapai melibatkan umbi
singkong sebagai substrat dan ragi tapai (Saccharomyces cerevisiae)
yang dibalurkan pada umbi yang telah dikupas kulitnya. Pembuatan tape
melibatkan banyak mikroorganisme.
Jika ditinjau dari proses pembuatan, dapat diketahui bahwa tapai salah satu produk bioteknologi berbasis konvensional. Hal ini karena melibatkan mikrobia eukariotik yaitu jamur yang diperoleh dari ragi berarti di dalam ragi yang mengandung jamur yaitu Sacchoromiyces cerevicae . Sacchoromiyces cerevicae berperan hearts mengubah karbohidrat Menjadi alkohol Dan karbondioksoda through Proses Fermentasi. Proses pembuatan tape harus dilakukan dengan baik untuk menghasilkan kualitas warna, rasa, tekstur serta aroma khas tape yang baik. Berdasarkan uraian diatas maka dilakukan praktikum bioteknologi Fermentasi Tape.
1.2 Rumusan masalah
bagaimana membuat tapai dengan baik dan benar sehingga menghasilkan tempe kualitas yang baik ?
1.3 Tujuan
mampu membuat tempe dengan baik dan benar sehingga menghasilkan tempe
kualitas yang baik
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Bioteknologi berasal dari kata latin yaitu bio (hidup),
teknos (teknologi = penerapan) dan logos (ilmu). Bioteknologi adalah cabang
biologi yang mempelajari pemanfaatan prinsip ilmiah dan rekayasa terhadap
organisme, proses biologis untuk meningkatkan potensi organisme maupun
menghasilkan produk dan jasa bagi kepentingan manusia.bisa diartikan
juga,Bioteknologi adalah penggunaan biokimia, mikrobiologi, dan rekayas
genetika secara terpadu untuk menghasilkan barang atau lainnya bagi kepentingan
manusia. Bioteknologi dibagi ke dalam 2 bagian, yaitu bioteknologi modern dan
bioteknologi konvensional.Salah satu contoh dari bioeknologi konvensional
adalah pembuatan tape ini.Dan salah satu contoh dari bioteknologi modern adalah
rekayasa genetika.( Winarno, D. dan S. Fardiaz. 1982.)
Tape adalah produk yang dihasilkan dari proses fermentasi,
di mana terjadi suatu perombakan bahan-bahan yang tidak sederhana. Zat pati
yang ada dalam bahan makanan diubah menjadi bentuk yang sederhana yaitu gula,
dengan bantuan suatu mikroorganisme yang disebut ragi atau khamir. Ragi tape
adalah bahan yang dapat digunakan dalam pembuatan tape, baik dari singkong dan
beras ketan. Ragi tape merupakan populasi campuran yang tediri dari
spesies-spesies genus Aspergilius, Saccharomyces, Candida, Hansenulla, dan bakteri
Acetobacter. Genus tersebut hidup bersama-sama secara sinergis. Aspergillus
menyederhanakan tepung menjadi glukosa serta memproduksi enzim glukoamilase
yang akan memecah pati dengan mengeluarkan unit-unit glukosa, sedangkan
Saccharomyces, Candida dan Hansenulla dapat menguraikan gula menjadi alkohol
dan bermacam-macam zat organik lain sementara itu Acetobacter dapat merombak
alkohol menjadi asam. Beberapa jenis jamur juga terdapat dalam ragi tape,
antara lain Chlamydomucor oryzae, Mucor sp, dan Rhizopus sp. Tarigan (1988)
Beras, ketan, jagung dan ketela pohon, dapat digunakan
sebagai bahan dasar pembuatan tapai. Bahan-bahan tersebut dikukus hingga
matang, dihamparkan ditampah dan kemudian dibubuhi ragi, kemudian dicampur itu
ditaruh di belangga, ditutup dengan daun pisang dan disimpan di tempat yang
sejuk. Tak lama kemudian berkhamirlah karena daya kerja organisasi yang
ada dalam ragi .( Berlian, Zainal. Dkk. 2016)
Mikroorganisme dari kelompok kapang akan menghasilkan
enzim-enzim amilolitik yang akan memecahkan amilum pada bahan
dasar menjadi gula-gula yang lebih sederhana (disakarida dan
monosakarida). Proses tersebut sering dinamakan
sakarifikasi (saccharification). Kemudian khamir akan merubah
sebagian gula-gula sederhana tersebut menjadi alkohol. Inilah
yang menyebabkan aroma alkoholis pada tape. Semakin lama tape
tersebut dibuat, semakin kuat alkoholnya. Pada beberapa daerah,
seperti Bali dan Sumatera Utara, cairan yang terbentuk dari pembuatan
tape tersebut diambil dan diminum sebagai minuman beralkohol. (Nurhayani. Dkk. 2001)
Tapai memiliki rasa sedikit manis dengan
sedikit rasa alkohol dan aroma semerbak yang khas. Tekstur lunak dan
berair serta menghasilkan cairan yang merupakan efek dari efek
fermentasi. Rasa manis pada tapai dari kadar gula dari tapai itu sendiri. Namun
terkadang - kadang-kadang pada waktu tertentu, mencapai timbil rasa asam agak
menyengat. Hal ini biasanya ditimbulkan oleh proses selama proses
pembuatan yang kurang teliti, misalnya disetujui ragi yang terlampau banyak,
penutupan yang kurang sempurna selama proses fermentasi berlangsung, atau
karena proses fermentasi yang terlalu lama (Santosa, 2016).
Proses pembuatan tape melibatkan proses fermentasi
yang dilakukan oleh jamur Saccharomyces cerivisiae. Jamur ini
memiliki kemampuan dalam mengubah karbohidrat (fruktosa dan glukosa)
menjadi alcohol dan karbondioksida. Selain Saccharomyces cerivisiae,
dalam proses pembuatan tape ini terlibat pula mikrorganisme lainnya,
yaitu Mucor chlamidosporus dan Endomycopsis fibuligera.
Kedua mikroorganisme ini turut membantu dalam mengubah pati menjadi
gula sederhana (glukosa).
Perbedaan waktu fermentasi dapat
menghasilkan perbedaan pertumbuhan mikroorganisme. Semakin lama waktu
fermentasi maka mikroorganisme yang tumbuh semakin banyak
sampai nutrisi dimedia tersebut habis. Proses pengolahan makanan
dipengarhui aktivitas mikroorganisme. Dari hasil fermentasi yang
dilakukan, diperoleh pertumbuhan dan mikroorganisme tinggi yang merupakan hasil
fermentasi 9 hari. Hal ini karena adanya aktivitas mikroorganisme yang optimal,
sedangkan pada fermentasi hari ke 0 mikroorganisme belum tumbuh dan fermentasi
hari ke 3 diperoleh pertumbuhan dan mikroorganisme rendah (Hidayati, 2018).
BAB III
METODE PENELITIIAN
3.1 Waktu dan Tempat
Hari/tanggal : Rabu, 22 April 2020
Waktu
: pukul 15.00 – 17.00 WIB.
Tempat : Desa Bajak I, Kabupaten Bengkulu Tengah,
Provinsi Bengkulu.
3.2 Alat dan Bahan
1. Alat
a. Dandang
b. Baskom
c. Sendok kayu
d. Talang
e. Toples
f.
Saringan
2.
Bahan
a. Daun pisang
b. Singkong
c. Ragi tapai
d. Air secukupnya
3.3 Langkah kerja
1. Siapkan semua bahan.
2. Kupas singkong dan kikis bagian kulit arinya hingga kesat.
3. Potong singkong yang telah dikupas sesuai keinginan
4. Cuci hingga bersih singkong yang telah dipotong.
5. Sementara menunggu singkong kering, masukkan air ke dalam panci sampai
kira – kira terisi seperempat lalu panaskan hingga mendidih.
6. Setelah air mendidih masukkan singkong ke dalam panci kukus, lalu kukus
hingga singkong ¾ matang, kira – kira daging singkong sudah bisa ditusuk dengan
garpu.
7. Setelah matang, angkat singkong yang telah ¾ masak lalu taruh di suatu
wadah, kemudian didinginkan.
8. siapkan wadah sebagai tempat untuk mengubah singkong menjadi tape. Wadah
itu terdiri dari baskom yang bawahnya dilapisi dengan daun pisang.
9. Setelah singkong benar – benar dingin, masukkan singkong ke dalam
wadah lalu tabur dengan ragi yang telah dihaluskan
10. Singkong yang telah diberi ragi ini kemudian ditutup kembali dengan daun
pisang. Singkong ini harus benar – benar tertutup agar mendapatkan hasil yang
maksimal.
11. Setelah singkong
ditutupi dengan daun pisang, diamkan selama 1-2 hari hingga sudah terasa lunak
dan manis. Saat itulah singkong telah menjadi tape.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil percobaan
|
NO |
Nama Bahan |
Tekstur |
Warna |
Aroma |
Rasa |
Foto |
|
1. |
Singkong
(sebelum fermentasi) |
keras |
putih |
Tidak beraroma |
Hambar |
|
|
2. |
Singkong (sesudah
fermentasi) |
Lunak dan berair |
Putih kekuningan |
Menyengat dan berbau alkohol |
Manis |
|
4.2 Pembahasan
Pada
praktikum kali ini kami melakukan percobaan pembuatan tapai singkong. Tape adalah produk yang dihasilkan dari proses fermentasi, di mana terjadi
suatu perombakan bahan-bahan yang tidak sederhana. Zat pati yang ada dalam
bahan makanan diubah menjadi bentuk yang sederhana yaitu gula, dengan bantuan
suatu mikroorganisme yang disebut ragi atau khamir. Proses pembuatan tape
melibatkan proses fermentasi yang dilakukan oleh jamur Saccharomyces cerivisiae.
Jamur ini memiliki kemampuan dalam mengubah karbohidrat (fruktosa dan
glukosa) menjadi alcohol dan karbondioksida. Selain Saccharomyces cerivisiae,
dalam proses pembuatan tape ini terlibat pula mikrorganisme lainnya,
yaitu Mucor chlamidosporus dan Endomycopsis fibuligera.
Kedua mikroorganisme ini turut membantu dalam mengubah pati menjadi
gula sederhana (glukosa).
Teknik pembuatan singkong pada
umumnya adalah dikupas kulitnya, direbus, didinginkan, seluruh permukaan
ditaburi dengan ragi dan kemudian dibungkus daun atau plastik dan diperam
kedalam baskom selama 2 atau 3 hari. Singkong kemudian menjadi lunak dan
rasannya menjadi lebih manis karena proses fermentasi mengubah pati singkong
menjadi gula. Ragi berfungsi untuk
memecah glukosa pada tape, menjadi CO2 , asam asetat, energi dan
alkohol. Menurut (Tarigan (1988) Ragi tape merupakan populasi campuran yang
tediri dari spesies-spesies genus Aspergilius, Saccharomyces, Candida,
Hansenulla, dan bakteri Acetobacter. Genus tersebut hidup bersama-sama secara
sinergis. Aspergillus berfungsi menyederhanakan tepung menjadi glukosa serta
memproduksi enzim glukoamilase yang akan memecah pati dengan mengeluarkan
unit-unit glukosa, sedangkan Saccharomyces, Candida dan Hansenulla dapat
menguraikan gula menjadi alkohol dan bermacam-macam zat organik lain sementara
itu Acetobacter dapat merombak alkohol menjadi asam. Beberapa jenis jamur juga
terdapat dalam ragi tape, antara lain Chlamydomucor oryzae, Mucor sp, dan
Rhizopus sp.
Berdasarkan percobaan yang dilakukan didapatkan data bahwa singkong
sebelum difermentasi memiliki tekstur yang keras, berwarna putih, tidak
bearoma, dan rasanya hambar sedangkan singkong yang sudah difermentasi selama 3
hari menghasilkan perubahan seperti
tekstur yang lunak dan berair, berwarna putih kekuningan, beraroma alkohol yang
menyengat, dan memiliki rasa yang manis. Menurut Harris dan Karmas (1989),
fermentasi menimbulkan perubahan tekstur, cita rasa, aroma, nilai cerna dan
nilai gizi.
Tapai memiliki tekstur lunak dan berair, ini di sebabkan proses pengukusan
sampai matang, sehingga teksturnyaa lembek atau lunak. Tape yang telah matang
dihidrolisis oleh mikroorganisme dengan enzim karbohidrase dari ragi melalui
proses fermentasi . fermentasi tape yang lebih lanjut akan menyebabkan produk
menjadi lunak dan berair. Hal itu juga didukung oleh Winarno (1982), bahwa
semakin lama fermentasi terjadi perombakan senyawa bermolekul besar menjadi
komponen yang lebih sederhana dan menghasilkan sejumlah air dan energi. Menurut
Winarno (1982), kadar air suatu bahan pangan sangat berpengaruh terhadap
tekstur, bila kadar air pada bahan tinggi maka tekstur semakin lunak dan jika
kadar air pada bahan menurun maka tekstur akan mengeras.
Aroma tapai pada percobaan berbau
alkohol yang menyengat Jika di analisis, hal ini sesuai dengan pendapat yang
dikemukakan oleh Hidayati (2018) yang mengatakan bahwa " fermentasi
hari ke 3 diperoleh pertumbuhan mikroorganisme rendah". Hasil
pengamatan menyatakan bahwa tapai memiliki aroma yang larut dalam alkohol
dengan rasa yang agak manis lama. Menurut (Santosa, 2016). Tapai
memiliki rasa sedikit manis dengan sedikit rasa alkohol dan aroma semerbak yang
khas.
Pada hasil percobaan fermentasi, tapai singkong memiliki rasa yang manis.
Rasa manis pada tape terjadi karena proses perubahan karbohidrat yaitu berubah
pati dihidrolisis oleh mikroorganisme dalam ragi dipecah menjadi glukosa.
Glukosa menimbulkan rasa yang manis pada tape, semakin banyak gukosa maka
semakin tinggi ras manis yang ditimbulkan oleh tape. Rasa yang ada pada tape
disebabkan karena adanya aktifitas dari mikroorganisme yang terkandung dalam
ragi. Ragi dalam inokulum dalam pembuatan tape yang berupa kultur campuran dari
beberapa mikroorganisme yang masing-masing memberi kontribusi dalam pembuatan
produk (Supriyanto, 1995). Selain itu, proses fermentasi juga turut menciptakan
rasa tape yang khas. Hal ini juga
didukung dengan pendapat (Sutanto, Teja. Dkk.2017) yaitu “ Pada
proses pembuatan tapai, khamir dan kapang merupakan mikrobia yang mengubah
karbohidrat yang terkandung dalam bahan, menjadi gula. Peran ragi dalam
pembuatan tapai adalah mengubah gula menjadi alkohol. Rasa manis pada tape
yang disetujui oleh kadar gula yang ada dalam tape tersebut ”. Perubahan
biokimia yang penting pada fermentasi tape adalah hidrolisis pati menjadi
glukosa dan maltosa yang akan memberikan rasa manis serta perubahan gula
menjadi alkohol dan asam organik. Reaksi dalam fermentasi berbeda - beda
tergantung pada jenis gula yang digunakan dan produk yang dihasilkan. Secara
singkat, glukosa (C6H12O6) yang merupakan gula paling sederhana, melalui
fermentasi akan menghasilkan etanol (2C2H5O H). Persamaan Reaksi Kimia: C6H12O6 +
2C2H5OH + 2CO2 + 2 ATP
Rasa manis pada tapai
dari kadar gula dari tapai itu sendiri. Namun terkadang - kadang-kadang
pada waktu tertentu, mencapai timbil rasa asam agak menyengat. Hal ini
biasanya ditimbulkan oleh proses selama proses pembuatan yang kurang teliti,
misalnya disetujui ragi yang terlampau banyak, penutupan yang kurang sempurna
selama proses fermentasi berlangsung, atau karena proses fermentasi yang
terlalu
Faktor-faktor yang mempengaruhi
pembuatan tape yaitu suhu, keasaman, oksigen dan ragi. Suhu yang digunakan
dalam fermentasi akan mempengaruhi mikroba yang berperan dalam proses
fermentasi, suhu optimal untuk fermentasi tape yaitu 350C–400C. Tingkat keasaman
sangat berpengaruh dalam perkembangan bakteri. Kondisi keasaman yang baik untuk
pertumbuhan bakteri adalah 3,5-5,5. Derajat aerobiosis adalah merupakan faktor
utama dalam pengendalian fermentasi, oksigen harus dibatasi pada fermentasi
tape agar tercipta suasana fermentasi anaerob. Ragi yang digunakan dapat
mempengaruhi hasil yang akan diperoleh dikarenakan ragi yang digunakan tersebut
bisa tidak menggunakan kultur murni yaitu dengan penambahan beras. Jumlah ragi
yang diberikan juga dapat mempengaruhi apabila ragi yang diberikan terlalu
banyak maka dapat membuat tape tersebut sangat lunak. Hal ini sesuai dengan
pendapat (Asnawi Muhammad, dkk. 2018) yang menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi keberhasilan
tape yaitu oksigen, suhu, tingkat keasaman dan ragi.
Ada beberapa hal yang
membuat tape tidak bisa jadi sebagaimana
yang diharapkan, yaitu sebagai berikut:
1. Bahan kurang bagus. Meskipun hanya untuk
difermentasikan menjadi tape, tetapi bahan dasar singkong haruslah bagus. Kalau
orang jawa singkong yang meduk atau lunak dan tidak keras.
2. Pemotongan
singkong juga perlu mendapat perhatian. Usahakan potongan jangan terlalu besar
atau terlalu kecil, sehingga memudahkan pada saat pemberian ragi.
3. Pencucian.
Sebelum di kukus, singkong harus dicuci bersih-bersih agar zat-zat yang
mengganggu jalan fermentasi hilang.
4. Memasak
singkong. Pada beberapa daerah penghasil tape singkong, mereka memasak singkong
dengan mengukus dan bukannya merebus. Karena apabila direbus, maka kandungan
air dalam singkong akan menjadi terlalu banyak, dan tidak bisa dihilangkan dengan
sekedar meniriskan.
5. Penirisan
dan pendinginan singkong. Tiriskan singkong yang telah dikukus agar kandungan
air berkurang. Tiriskan dan dinginkan ditempat yang bersih, teduh, tidak
terkena angin langsung dan sebaiknya di tutup dgn tutup saji. Pada taraf ini
usahakan jangan sampai singkong tercemar bahan lain seperti garam gula dan
hindarkan dari sentuhan langsung barang logam.
6. Peragian.
Pilihlah ragi dengan kualitas bagus. Biasanya ragi yang bagus memiliki warna
putih yang merata dan tidak terdapat bercak atau noda kuning serta noda
lainnya, lembut, mudah diremukkan dan apabila diremukkan tidak membongkah. Ragi
yang bagus akan menghasilkan fermentasi yang merata dan menghasilkan tape yang
manis dan tidak terlalu masam..
Taburkan ragi secara merata pada singkong yang telah dingin, sebaiknya
digunakan tampah dengan dialasi daun pisang, agar ragi mudah merata.
Penyimpanan / fermentasi. Letakkan / tata / atur singkong yang sudah diberi ragi ke tempat yang akan dijadikan tempat penyimpanan. Alasi tempat penyimpanan tersebut dengan daun pisang dengan merata dan cukup tebal (kira-kira dua atau tiga lapis). Kalau bisa tempat penyimpanan ini bukan terbuat dari logam, tetapi kalau tidak ada bisa saja menggunakan panci atau dandang logam, tetapi lapisan daun harus benar2 merata dan cukup. Setelah diatur dengan rapi, tutup dengan daun pisang dengan rapat sebelum ditutup dengan alat penutup. Tutup harus rapat sehingga tidak terjadi pertukaran udara luar. Penyimpanan yang kurang baik menyebabkan fermentasi tidak merata. Kekeliruan atau ketidak cermatan dari salah satu langkah tersebut di atas dapat menyebabkan tape yang dibuat menjadi tidak seperti yang diharapkan.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Setelah melakukan penelitian, ternyata kami dapat
menyimpulkan bahwa fermentasi yang terjadi pada tape singkong terjadi selama 2-3
hari. Selain itu juga, dalam proses pembuatan tape ini ada hal-hal yang harus
diperhatikan supaya proses fermentasi tersebut berlangsung secara sempurna.
Selama proses fermentasi tidak memerlukan oksigen. Oleh karena itulah, proses
fermentasi pada singkong harus tertutup rapat. Lamanya proses fermentasi juga
mempengaruhi kadar alcohol yang dihasilkan. Pembuatan tape termasuk dalam
bioteknologi konvensional (tradisional) karena masih menggunakan cara-cara yang
terbatas. Pada proses pembuatan tape, jamur ragi akan memakan glukosa
yang ada di dalam singkong sebagai makanan untuk pertumbuhannya, sehingga
singkong akan menjadi lunak, jamur tersebut akan merubah glukosa menjadi
alkohol. Dalam pembuatan tape, ragi (Saccharomyces cereviceae) mengeluarkan
enzim yang dapat memecah karbohidrat pada singkong menjadi gula yang lebih
sederhana. Oleh karena itu, tape terasa manis apabila sudah matang walaupun
tanpa diberi gula sebelumnya. Kegagalan dalam pembuatan tape biasanya
dikarenakan enzim pada ragi Saccharomyces cereviceae tidak pecah
apabila terdapat udara yang mengganggu proses pemecahan enzim tersebut.
5.2 saran
Dalam pembuatan tape sebaiknya mempelajari terlebih dahulu proses kerjanya, seperti selalu bekerja dalam keeadaan steril agar tape tidak terkontaminasi oleh mikroba lain yang mampu mengubah cita rasa tape dan menjadikannya tidak enak. Dalam membungkus tape harus dalam keadaan benar-benar rapat, tidak ada udara yang bias masuk. Pemberian ragi harus dengan takaran yang sesuai. Sebelum menaburkan ragi, singkong yang sudah dimasak harus didinginkan terlebih dahulu, agar mikroorganisme yang berperan dalam fermentasi tape tidak mati oleh suhu yang panas. dan Diharapkan setelah praktikum ini praktikan dapat memahami cara-cara pembuatan tape yang baik dan benar.
DAFTAR PUSTAKA
Asnawi Muhammad, dkk. 2018. Karakteristik Tape Ubi Kayu
(Manihot utilissima) Melalui Proses Pematangan Dengan Penggunaan Pengontrol
Suhu. Jurnal Bioproses Komoditas Tropis Vol. 1 No. 2. Hal : 58
Berlian, Zainal. Dkk. 2016. Jurnal
Biota. Uji Kadar Alkohol Tapai Ketan Putih Singkong Melalui Fermentasi dengan Dosis Ragi
yang Berbeda. Vol. 2 No. 1.
Supriyanto. 1995. Mikroorganisme dalam Ragi Untuk
Fermentasi Tape. Prosiding Seminar Bioteknologi Biomassa, BPPT, pp. 85-96
Santosa, Agus. Prakosa, Cucut. 2016. Karakteristik
Tapai Buah Sukun Hasil Fermentasi Penggunaan Konsentrasi Ragi Yang
Berbeda. Jurnal ilmiah. Vol. 22. No. 73.
Winarno, D. dan S. Fardiaz. 1982. Pengantar Teknologi
Pangan. PT. Gramedia. Jakarta
Hidayati, Darimiyya. Dkk. 2018. Argointek. Pola
Penggunaan Ragi pada Fermentasi Kulit SIngkong. Vol. 7 No. 1.
Nurhayani. Dkk. 2001. Peningkatan
Kandungan Protein Kulit Umbi Ubi Kayu Melalui Proses
Kanisius
Sutanto, Teja Dwi. Dkk.2017 . Studi Kandungan
Etanol Dalam Tapa i Hasil Fermentasi Beras Ketan Hitam Dan
Putih. Jurnal Gradien . Vol. 2 No.1.
Tarigan, J., 1988, Pengantar Mikrobiologi Umum, Jakarta:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi
Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Pendidikan



Komentar
Posting Komentar